Masalah Kesehatan Akibat Pembangunan

A.  Latar belakang
          Dengan semakin majunya hasil-hasil pembangunan di Indonesia, kehidupan sosial timbal-balik ikut terngakai makin maju. Kemajuan ditopang oleh penerapan ilmu pengetahuan maupun teknologi. Seiring dengan perkembangan ini, cakrawala berfikir masyarakat Indonesia terhadap keadaan lingkungan disekitar juga ikut berubah.
            Sesuai dengan tujuan pembangunan nasional, maka pembangunan kesehatan ditujukan kepada peningkatan pemberantasan penyakit menular dan penyakit rakyat, peningkatan keadaan gizi rakyat, peningkatan pengadaan air minum, peningkatan kebersihan dan kesehatan lingkungan, perlindungan obat yang tidak memenuhi syarat, serta penyuluhan kesehatan masyarakat untuk memasyarakatkan perilaku hidup sehat yang dimulai sedini mungkin
Dengan demikian maka dengan pembangunan kesehatan dapat tercapai mutu dan lingkungan hidup yang optimal bagi setiap penduduk agar mampu mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, yang meliputi kesehatan badaniah dan rohaniah serta kehidupan yang sejahtera dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacad dan kelemahan.
             Akibat dari pertambahan penduduk dari kegiatan manusia yang beraneka ragam membuat usaha perbaikan kesehatan lingkungan menjadi bertambah sulit dan kompleks, disamping harus juga mengembangkan bidang-bidang usaha tersebut agar dapat cepat tanggap terhadap perubahan dan kemajuan lingkungan sekitar.
Karenanya dalam menanggulagi permasalahan bidang kesehatan lingkungan diperlukan pendekatan yang bersifat menyeluruh dan multi disiplin, mengingat bahwa aspek-aspek yang dicakupnya cukup luas dan beraneka ragam

Permasalahan
1.      Pengaruh pembangunan bagi kesehatan lingkungan
2.      Dampak pencemaran polusi udara bagi lingkugan sekitar
3.      Pengaruh pembangunan bidang makanan bagi kesehatan
Tujuan
1.      Untuk mengetahui dampak-dampak akibat dari pembangunan dari segala bidang
2.      Memahami tentang kesehatan lingkungan dan pengaruh kesehatan lingkungan bagi masyarakat

B. Kesehatan Lingkungan

         Kesehatan lingkungan dapat dilihat dari berbagai segi, tergantung dari mata angin yang ingin memulai. Kesehatan lingkungan dari “frame-work” melalui konsep pendekatan ekologis yaitu dikenal dengan “the nature of man environment relationship”,namun bagi pendekatan tersebut terakhir ini kesehatan lingkungan dilihat sebagai kumpulan program maupun kegiatan kesehatan dalam rangka upaya manusia melalui teknologisnya menciptakan suatu kondisi kesehatan yang kemudian dikenal sebagai kesehatan lingkungan.
Dalam kaitannya dengan masalah ini kita menempatkan terminology kesehatan lingkungan dalam deretan akronim setingkat dengan kesehatan kerja, kesehatan jiwa, kesehatan angkasa dan lain sebagainya. Diasmping kesehatan lingkungan itu dapat dikaji dari segi pendekatan ekologis maupun pendekatan operasional, ternyata kita masih dapat mengkaji dari pendekatan perkembangan ilmu terapan baru (applied science) yang bersifat komprehensif (pendekatan multi disiplinner).
Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dibidang lingkungan (Ecology) kita lebih menekankan system tersebut pada arti interaksi antar elemen didalamya. Interaksi yang senantiasa bersifat dinamis sehingga sering dijabarkan dalam pengertian “interactions between environment and mans biological system”
     Bertitik tolak dari model timbangan Gordon, kemudian dimodifikasikan pada suatu model lanjutanya dijelaskan oleh empat factor, yaitu:
a.       Faktor penentu kahidupan atau life support
b.      Aktifitas manusia atau man’s activites
c.       Bahanbuangan & residu karena kehadiran adan aktifitas manusia (residues and wastes
d.      Gangguan lingkungan (environmental hazard s)
Dalam pendekatan ekologis ini justru menekanakan titik masalah pada man’s activities. Dari titik ini terdapat komunikasi dua arah yang masing-masing dapat ke arah Life Support, Residues and Wastes serta Gangguan Lingkungan.
Namun di lain pihak dari segi kausal tidak digambarkan adanya interaksi antar-antar faktor.
    Di dalam kaitan ini, kesehatan lingkungan menempatkan dan menggantungkan diri pada keseimbangan ekologi, sehingga karenanya berusaha menjalin suatu keseimbangan interaksi manusia dengan lingkungannya pada tarap optimal dan batas-batas tertentu untuk menjamin kehidupan yang tetap sehat (well being). Kehidupan yang sehat meliputi baik dimensi kesehatan fisik, kesehatan mental maupun hubungan sosial yang optimal dengan lingkungan sekitar.Bila kondisi yang optimal dapat dicapai karena timbulnya interaksi yang “menekan” kehidupan, maka kesehatan lingkungan sampai batas-batas dimungkinkan dapa menyerasikan diri melalui berbagai upaya.
Perubahan yang sesungguhnya ditimbulkan oleh manusia sendiri pada umumnya, dan dipengaruhi oleh:
1.      Pertumbuhan penduduk yang sangat cepat, yang sering dikenal dengan istilah “peledakan penduduk” dengan segala implikasi kaitannya lebih lanjut.
2.      Urbanisasi, yang dapat menimbulkan perubahan-perubahan yang terjadi pada kota-desa, dimana dampaknya tidak saja dirasakan bagi system kehidupan kota melainkan juga ikut merugikan kehidupan sistem pedesaan sendiri.
3.      Industrialisasi, yang menimbulkan berbagai mata rantai implikasi serta sebagai akses secara luas.
4.      Perkembangan teknologi yang sangat cepat, khususnya bagi negara-negara yang sedang berkembang yang belum dapat menyiapkan diri dalam sistem sosialnya (infra structural).
5.      Kebutuhan yang “meningkat” dari masyarakat untuk memaksakan meningkatkan standart kehidupan, pada hal syarat-syarat untuk mendukung ini juga belum disiapkan.
Walaupun demikian ada tiga pokok yang dapat dilakukan dalam mengembangkan upaya-upaya kesehatan lingkungan  yaitu :
a.       Di mana dimungkinkan gangguan-gangguan yang dapat berakibat terhadap kesehatan lingkungan perlu di cegah.
b.      Apabila gangguan tersebut telah ada, langkah berikutnya adalah mengusahakan mengurangi atau meniadakan efeknya terhadap kecenderungan timbulnya penyakit didalam masyarakat.
c.       Mengembangkan lingkungan yang sehat, khususnya pada daerah-daerah padat melalui sistem perencanaan dan pengendalian yang mudah terhadap pemukiman,perumahan dan fasilitas rekreasi yang sesungguhnya bisa menjadi pusat kunjungan manusia dan sumber penularan.
        Dengan demikian pendekatan ekologis yang dapat dipertimbangkan sebagai masukan dalam suatu definisi kesehatan lingkungan. Kesehatan lingkungan yang mempunyai dimensi yang luas dan berbeda berdasarkan faktor kemampuan pelaksanaanya dimasing-masing negara.

C.   Pembangunan di bidang makanan / sanitasi makanan
    Sanitasi makanan merupakan salah satu bagian yang terpenting dalam segala aktivitas kesehatan masyarakat, mengingat adanya kemungkinan penyakit-penyakit akibat makanan, kebiasaan-kebiasaan taradisional dalam mengelola makanan masih menjadi masalah yang utama dalam masyarakat selama belum ada cara pengganti yang berkenan. Dalam kehidupan manusia makanan mempunyai peranan penting dan peranan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
a.       Setiap manusia memerlukan makanan untuk kelangsungan hidupnya.
b.      Manusia yang terpenuhi semua kebutuhan makanannya akan terlindung dan terjamin kesehatannya sehingga memiliki produktifitas kerja yang optimal.
c.       Bahan makanan dapat merupakan media perkembang biakan kuman penyakit atau dapat juga merupakan media perantara dalam penyebaran suatu makanan.
        Sanitasi makanan meliputi kegiatan usaha yang ditujukan kepada kebersihan dan kemurnian makanan agar tidak menimbulkan suatu penyakit. Usaha-usaha sanitasi tersebut meliputi tindaka-tindakan saniter yang ditujukan pada semua tingkatan, sejak makanan mulai dibeli, disimpan, diolah, dan disajikan untuk melindungi agar konsumen tidak dirugikan kesehatanya.
1  Pengaruh Makanan Terhadap Kesehatan
        Makanan merupakan salah satu pokok kebutuhan manusia untuk kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, makanan merupakan hal yang penting bagi manusia.
Pentingnya makanan bagi manusia, selain itu dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
        Di tinjuau dari segi kesehatan, kegunaan makanan adalah sebagai sumber zat makanan. Zat makanan mempunyai fungsi sebagai berikut:
1.      Sumber energi.
2.      Zat pembangun.
3.      Zat pengatur.
Di tinjau dari fungsi makanan adalah sangat penting bagi manusia untuk mengkonsumsi makanan itu, namun jika makanan yang dikonsumsi tersebut melebihi batas akan menimbulkan masalah tersendiri bagi kesehatan manusia itu sendiri.
Namun, soal nutrisi yang nampak di permukaan bisa mengicu, jalinan antara bagaimana orang di negara-negara industri makanan dan bagaiman mereka hidup dan mati telah membuat sebagian orang meragukan “makanan mewah”
         Ciri-ciri yang paling banyak diperkirakan menandai menu mewah adalah kadar lemak yang tinggi, terutama lemak hewani dan kolesterol. Seperti diketahui oleh banyak orang makanan yang digoreng dengan rasa gurih, keju serta minyak selada yang mengandung lemak serta produksi-produksi yang terbuat dari susu juga menambahakan banyak lemak kedalam menu.
Jenis dan jumlah lemak yang kita makan sangat berpengaruh atas kesehatan. Konsumsi lemak jernih dalam jumlah yang tinggi dan terutama berasal dari produksi hewani bisa menimbulkan bermacam penyakit. Lemak yang tidak jernih nampaknya tak begitu berbahaya bagi kesehatan, tapi itu tetap berbahaya jika dikonsumsi terlalu banyak.
            Seiring dengan gaya hidup “menu mewah” konsumsi kalor pun akan semakin tinggi dan bisa mengakibatkan obesitas, yang akhirnya dapat menyebabkan diabetes, tekanan darah tinggi serta penyakit jantung koroner.
Menu yang kaya akan lemak binatang bisa menimbulkan serangan jantung atau kelumpuhan yang akhirnya, lemak menu yang berlebihan bisa juga dihubungkan  dengan kanker perut, dada, prostat, serta kanker lainya.
        Namun, jumlah yang meningkat dari dari orang yang mengalami obesitas  bukanlah semata-mata soal bagaiman mengubah gaya hidup, persediaan makanan atau sikap mengenai berat yang ideal
Walaupun pertimbangan kesehatan itu sendiri sudah cukup untuk mengubah menu mewah, masih ada dua pertimbangan lainya yang membuat perubahan-perubahan itu menjadi lebih menarik, yang pertama adalah penghematan menu keluarga, baik pengurangan konsumsi daging maupun mengutamakan sayur-sayuran dari pada protein hewani yang akan mengirit pengeluaran. Yang kedua adalah pengurangan nutrisi yang berlebih sediktnya bisa membantu nutrisi rendah.
2.   Pengaruh polusi udara terhadap kesehatan lingkungan
      Kendaraan bermotor merupakan sumber pencemaran yang mempunyai pengaruh sangat besar bagi lingkungan, antar lain karena membebaskan hidrokarbon, oksida nitrogen, oksida sulfur dan lain-lain. Khusunya hidro karbon dan nitrogen oksida di udara akan membentuk ozon maupun bereaksi dengan ozon itu sendiri melalui proses “photo chemical process”
Dengan semakin padatnya suatu kota metropolitan yang dikelilingi oleh pencakar langit diantara jalan-jalan yang relativ sempit justru dapat memicu timbulnya “bottle neck” atau stagnasi. Karenaya akan sering terlihat diatas jalan semacam asap keputi-putihan yang diistilahkan dengan terminology “smog”. Asap tersebut sesungguhnya adalah suatau hasil dari apa yang disebut “photochemical smog”
        Polusi udara bisa menjadi masalah yang gawat diberbagai kota kota besar dimana mayoritas penduduknya sangat miskin, penelitian di kalkuta, India mengungkapkan bahwa konsentrasi karbon monoksida dijalanan pada jam-jam sibuk mencapai tingkat-tingkat yang lebih tinggi dari pada pada jam-jam lenggang.
Tak seorangpun yang meragukan bahaya tingginya konsentrasi zat-zat seperti limbah hitam tau karbon monoksida, juga tak seorangpun yang meragukan bahwa konsentrasi yang tinggi dari oksida sulfur dengan zat tertentu menggalakan gajala-gejala penyakit pernafasan dan penyakit jantung dan ada kalanya membawa maut.
Jika di pertimbangkan secara terpisah, meskipun masa-masa polusi yang parah tersebut melelehkan dan sulit dipahami itu semua tak memberikan bukti yang meyakinkan bahwa polusi merupakan penyebab penyakit. Itulah sebabnya, maka lonjakan tingkat-tingkat kematian membuktikan bahwa polusi yang parah hanyalah menggalakan penyakit-penyakit yang ada.
Secara logika, udara kotor pasti mempengaruhi paru-paru,itulah sebabnya maka peranan polutan, terutama oksida sulfur dan zat-zat partikulat dalam merangsang penyakit-penyakit pernafasan telah mendapat cukup perhatian.
       Polusi udara tidak hanya merangsang berbagai penyakit kronis, tetapi juga dapat menggalakan seringya orang banyak, terutama anak-anak yang terkena penyakit-penyakit pernafasan jangka pendek.
Kontribusi polusi udara dala menimbulkan kematian akibat penyakit jantung koroner semakin disadari, kematian ekstra banyak terjadi dikalangan para penderita jantung. Selama berlangsungnya krisis polusi udara, mungkin antara lain disebabkan karena sesak nafas.
     Buangan industri ada kalanya mengandung sejumlah agen karisinogen yang sudah di ketahui, akan tetapi sejumlah unsure dalam kabut fotokemis belum pernaha diidentifikasi, apalagi diuji.
Zat partikulat dalam udara sudah di kaitkan secara statistik dengan kanker perut, kanker pada kelenjar prostat dan sejumlah peneliti memberikan hipotesa bahwa oksida nitrit di udara bisa berpadu dengan polutan-polutan kimia lainnya.

3.   Perubahan Ekosistem Terhadap Kesehatan Lingkungan
     Dari pendekatan ekologis, kesehatan linhkungan banyak tergantung dan dipengaruhi oleh berbagai ekosistem. Secara umum dapat dikatakan bahwa perubahan-perubahan yang masih dalam batas-batas wajar belum mendorong keseimbangan ekologis dan masih dapat ditolerir oleh kemampuan daya tahan          ( eksistensi) organisme melalui mekanisme adaptasi.
Namun nanti bila keseimbangan kedua ini masih juga diperluas sampai batas tertentu barulah perubahan lingkungan dengan dampak stabilitasnya, ini mengganggu kesehatan.
Pada kondisi ini sudah tiba pada perubahan stabilitas lingkungan, biasanya kualitas lingkungan sudah sedemikian bergeser, sehingga tidak mampu lagi memenuhi daya dukung kehidupan.
   Beberapa hal yang dapat menimbulkan berbagai perubahan ekosisrem antara lain:
a.       Sampah buangan domestik.
b.      Sampah industri anorganik.
c.       Sampah industri organik.
d.      Sampah radio aktif yang bisa dihasilkan dari ekses sampingan dari pusat-pusat pembangkit tenaga.
e.       Sampah khusus pestisida
f.       Sisa deterjent
g.      Sisa minyak bumi, mulai dari bensin sampai pelumas maupun minyak cat.
h.      Buangan air gelontor yang panas yang membawa dampak termis terhadap kehidupan air.
i.        Berbagai sampah padat.
j.        Pembebasan berbagai gas, baik dari industri, pusat-pusat pembakaran, dan system tranportasi.
k.      Dan lain-lain.

           Dengan makin majunya kehidupan modern yang berlatar belakang konsumtif berkelebihan, timbulah kemudian berbagai industri, pusat-pusat pengembangan ekonomi dan lain-lain yang pada hakekatnta timbal-balik masih menimbulkan berbagai mata rantai perubahan terhadap ekosistem yang ditinggalkan. Perubahan yang mau tidak mau sesungguhnya banyak mempengarui keseimbangan kesehatan lingkungan. Berbagai implikasi tersebut garis besarnya berkisar antara pada masalah industrialisasi, mobilitas manusia yang terus meningkat, diskonkruensi masalah kependudukan terhadap daya dukung yang makin melebar dan lain-lain. Implikasi ini ternyata menimbulkan berbagai mekanisme yang beraneka ragam terhadap stabilitas dan kuantitas ekosistem udara yang memiliki pola-pola khusus yang khas.
   Dengan adanya implikasi ini udara mengalami baik perubahan susunan kompisisinya dari segi kimiawi, perubahan temperatur dan kelembaban udara maupun segala aspek estetika dari pandangan udara yang makin suram. Bahwa hubungan antara makin banyaknya industrialisasi (yang dikonversikan sebagai sumber yang menggunakan enersi) dengan emisi oksida nitrogen tiap-tiap hari berdasarkan model empiris yang pernah diteliti.
 Masalah debu atau paetikulat pada daerah-daerah industri merupakanmasalah tersendiri. Asap industri justru dikeluarkan bukan secara intermittent atau sekali, melainkan serial berturut-turut tak terputus yang mempunyai efek sangat merugikan untuk kondisi kesehatan.


E. Penutup


Dari penjelasan-penjelasan diatas dapat di peroleh kesimpulan sebagai berikut:
  1. a. Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dibidang lingkungan  akan  dapat menenkan interaksi yang dinamis antara manusia dengan lingkungan.
  2. b. Kerugian terhadap adanya pencemaran udara yang ditimbulkan oleh industialisasi maupun polutan akan menimbulkan perubahan suhu dan iklim udara, sehingga berpengaruh besar terhadap fisiologi tubuh.
  3. c. Pengerusakan sumber daya air oleh ekses industrialisasi harus dibatasi, karena dampaknya ikut memberi beban terhadap kepentingan kesehatan lingkungan.
  4. d. Kerugian terhadap dampak “menu mewah” dan kelebihan nutrusi dapat lebih ditekan melalui penghematan nutrisi dan membiasakan hidup hemat sejak dini, dengan tidak melupakan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh tubuh, sehingga kesehatan  manusia akan dapat lebih ditingkatkan.




DAFTAR PUSTAKA


Erik P. Eckhholm, 1985, Masalah Kesehatan, Penerbit PT Gramedia, Jakarta
Haryoto Kusno Putranto,  1986, Kesehatan Lingkungan, Depdikbud FKM UI, Jakarta